Ragam dialektika sosial dan budaya masyarakat Sumbawa mencerminkan jati diri manusia sebagai makhluk yang mampu menyelaraskan dirinya dengan alam. Dalam kehidupan Tau Tana Samawa, hubungan manusia dan lingkungan bukanlah sekadar kebetulan, melainkan sebuah harmoni yang terbangun melalui proses panjang peradaban. Ketika manusia dan alam saling memahami, tercipta relasi yang romantis, penuh makna, nilai, dan keberlanjutan.

Masyarakat Sumbawa memandang alam sebagai ruang syukur kepada Tuhan. Alam tidak hanya memberi kehidupan secara material, tetapi juga menyediakan ruang simbolik bagi pewarisan nilai-nilai budaya leluhur. Melalui alam, pesan-pesan moral yang tertanam dalam karya dan praktik budaya diwariskan lintas generasi agar tidak musnah oleh waktu. Dalam konteks inilah hubungan antara leluhur, alam, dan generasi pewaris budaya seolah terhubung dalam satu mata rantai yang utuh.

Nilai Budaya sebagai Identitas dan Energi Sosial

Pewarisan nilai-nilai budaya Sumbawa harus diterima dengan hati terbuka dan penghayatan yang sungguh-sungguh. Nilai budaya bukan sekadar tradisi yang diulang, melainkan fondasi identitas yang membentuk otentisitas perilaku, cara pandang hidup, dan visi kolektif masyarakat. Nilai-nilai ini menjadi ciri khas yang membedakan Tau Samawa dari komunitas lainnya.

Lebih dari itu, nilai budaya berfungsi sebagai energi sosial. Daya dorong yang menumbuhkan kreativitas, inovasi, dan karakter masyarakat. Dalam bingkai inilah budaya tidak bersifat statis, tetapi hidup dan terus berkembang, mengarahkan komunitas menuju tatanan sosial yang lebih bermartabat dan berkeadaban.

Jejak Peradaban Tua Masyarakat Sumbawa

Sebagai salah satu peradaban tua di Nusantara, masyarakat Sumbawa telah melahirkan beragam produk kebudayaan yang menjadi bahasa rasa dan diekspresikan melalui pola-pola tindakan sosial. Berbagai catatan sejarah menyebutkan bahwa peradaban manusia Sumbawa telah tumbuh setidaknya sejak abad ke-14.

Lalu Mantja, dalam bukunya Sumbawa pada Masa Lalu, mencatat bahwa Kerajaan Dewa Awan Kuning di Sumbawa menjalin hubungan dengan Kerajaan Majapahit pada rentang tahun 1331–1364. Fakta ini menunjukkan bahwa manusia Sumbawa telah membangun peradaban yang mapan pada masa tersebut—atau bahkan jauh sebelumnya. Usia peradaban yang panjang inilah yang menjelaskan mengapa kebudayaan Tau Tana Samawa begitu kaya dan beragam.

Berang Salaki sebagai Simbol Martabat

Di antara kekayaan budaya tersebut, Berang Salaki hadir sebagai simbol penting martabat laki-laki Sumbawa. Ia bukan sekadar atribut fisik, melainkan representasi nilai keberanian, tanggung jawab, kehormatan, dan kedewasaan sosial. Berang Salaki, sebagai parang tradisional Sumbawa, melambangkan martabat, harga diri, dan kedewasaan laki-laki. Menegaskan semangat budaya Sumbawa untuk menjaga nilai, melindungi kehormatan, dan menghubungkan antara warisan leluhur dan masa depan komunitas.

Karena itulah, kebudayaan Tau Tana Samawa—termasuk Berang Salaki—selalu terbuka untuk dieksplorasi, dipahami, dan dimaknai kembali. Bukan untuk romantisme masa lalu semata, melainkan sebagai upaya merawat identitas dan martabat manusia Sumbawa di tengah perubahan zaman.

Lukman Hakim
Author: Lukman Hakim

Fotografer, tinggal di Taliwang, Sumbawa Barat.

By Lukman Hakim

Fotografer, tinggal di Taliwang, Sumbawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *