Tradisi Bau Nyale tidak hanya dikenal di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di Pulau Sumbawa, tepatnya di Kabupaten Sumbawa Barat, masyarakat pesisir Sekongkang juga menjaga dan merayakan tradisi turun-temurun ini setiap tahunnya. Menjelang fajar, sebelum matahari terbit, warga dari berbagai kecamatan berkumpul di pantai. Suasana penuh antusiasme, sorak-sorai, dan teriakan kecil menjadi penanda euforia menyambut kemunculan nyale.

Berdasarkan isi sejumlah catatan budaya, tradisi Bau Nyale telah dikenal oleh masyarakat Suku Sasak sejak sebelum abad ke-16. Secara etimologis, istilah bau nyale berasal dari bahasa Sasak: bau berarti menangkap, dan nyale merujuk pada hewan laut menyerupai cacing tanah dengan warna-warna cerah. Dalam kajian biologi, nyale termasuk dalam filum Annelida, hidup di lubang-lubang batu karang di bawah permukaan laut, dan memiliki struktur tubuh dengan tonjolan menyerupai kaki kecil.

Tradisi Turun-Temurun Masyarakat Pesisir

Pelaksanaan Bau Nyale dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat pesisir. Di Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, tradisi ini biasanya berlangsung sekali dalam setahun. Banyak warga bahkan mendirikan tenda atau kemping di tepi pantai sejak malam hari untuk menanti kemunculan nyale yang biasanya muncul menjelang subuh, sebelum matahari terbit.

Nyale yang berhasil ditangkap tidak hanya memiliki nilai simbolik, tetapi juga dikonsumsi oleh masyarakat. Salah satu cara pengolahan yang populer adalah dipepes dengan daun-daunan, menghasilkan cita rasa khas yang gurih dan lezat. Secara tradisional, nyale juga dipercaya mengandung karbohidrat dan menjadi sumber energi alami bagi masyarakat pesisir.

Pantai Pasin dan Antusiasme Warga Sekongkang

Lokasi utama pelaksanaan Bau Nyale di Sumbawa Barat berada di Pantai Pesin, wilayah Kecamatan Sekongkang. Namun, banyak wisatawan lebih mengenal kawasan ini sebagai Pantai Tropical, karena lokasinya berdekatan dengan Hotel Tropical. Sejak dini hari, masyarakat telah memadati pantai, sementara sebagian pekerja tambang AMNT tampak bergegas menuju lokasi kerja mereka, menambah dinamika aktivitas pagi di kawasan pesisir ini.

Perjalanan menuju lokasi dari Taliwang dimulai sekitar pukul 04.00 subuh. Dalam kondisi musim dingin, perjalanan ditempuh dengan kecepatan yang aman, sekitar 75 km per jam, dengan prinsip utama menjaga keselamatan di jalan.

Setibanya di pantai, masyarakat dengan penuh semangat menunggu nyale keluar dari lubang-lubang batu karang. Peralatan sederhana seperti sorok (jaring), ember, dan senter menjadi perlengkapan utama untuk menangkap nyale dalam gelapnya pagi.

Menangkap Nyale Menjelang Matahari Terbit

Proses menangkap nyale dilakukan sebelum matahari terbit. Hasil tangkapan setiap orang berbeda—kadang hanya segenggam tangan, namun penuh makna. Harapan selalu sama: semoga esok subuh nyale muncul lebih banyak dan membawa keberkahan bagi masyarakat pesisir.

Tradisi Bau Nyale Sekongkang bukan sekadar aktivitas menangkap biota laut, melainkan perayaan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan warisan budaya. Sebuah kearifan lokal yang terus hidup di pesisir Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Lukman Hakim
Author: Lukman Hakim

Fotografer, tinggal di Taliwang, Sumbawa Barat.

By Lukman Hakim

Fotografer, tinggal di Taliwang, Sumbawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *