Saat pertama tiba di kotamu
Bara api protes mahasiswa dan buruh di mana-mana
Semua teriak lantang
Naikkan upah!
Turunkan harga!
Berantas kolusi!
Berantas korupsi!
Berantas Nepotisme!
Saat pertama tiba di kotamu
Tak ada yang menjemputku
Ini bagai kota hantu
Tak ada orang di jalan
Tak ada kendaraan lalu lalang
Yang ada barikade penghalang jalan
Ini demi keamanan?
Saat pertama tiba di kotamu
Ruko dan mall terbakar
Semua ketakutan
Semua menjerit
Semua menangis
Semua jadi korban seperti arang
Bangsaku menjadi sorotan dunia
Tapi tiba-tiba semua berganti euforia
Saat sang raja menyatakan turun takhta
Katanya zaman reformasi dimulai
Semua teriak bebas
Semua mengkritik bebas
Para pemimpin tidak ada arti
Karena Sang Kolo Bendu justru membabi buta
Semua menjadi gila
Yang tidak ikut gila tidak dapat apa-apa
Mencuri sudah biasa
Korupsi tetap merajalela,
Semua tak ada malunya
Wahai Sang Kolo Bendu!
Kapan zamanmu berakhir?
Apa bangsa ini akan selamat atau kiamat?
Jawabnya pasti ada
Tapi kalau sudah muncul pemimpin-pemimpin yang membela rakyat
Pemimpin yang malu kepada rakyatnya
Dan Sang Kolo Bendu akan hancur lebur
Kalau telah muncul pemimpin yang selalu dekat dan peduli rakyatnya
Pemimpin yang ikhlas tulus untuk bangsanya
Pemimpin yang tidak rakus harta dunia
Hanya pemimpin yang berani tegakkan hukum
Dan berani menantang dunia
[Cijaura Girang, 27 November 25]
GUS, AKU INGIN MENCIUM JEJAK WANGIMU
Kalau tidak karena engkau Gus
Siapa yang membela kami
Semua orang membenciku
Semua orang menyudutkanku
Hanya karena kuning kulitku
Hanya karena sipit mataku
Padahal aku sudah lahir tumbuh di sini
Kalau tidak karena engkau Gus
Siapa yang membela kami
Ketakutan sudah tak ada lagi
Diskriminasi dibuang mati
Kebebasan diberi ruang tersendiri
Meski hujatan tetap engkau hadapi
Tiada takut lari
Kalau tidak karena engkau Gus
Siapa yang membela kami
Engkau terlalu pintar
Engkau terlalu bersahaja
Engkau apa adanya
Engkau tidak pernah kompromi
Engkaupun diserang serigala politik
Bagai musuh abadi
Kalau tidak karena engkau Gus
Siapa yang membela kami
Engkau lepaskan takhta demi bangsamu
Engkau ikhlaskan takhta demi persatuan negerimu
Engkau singkirkan nafsu demi tanah airmu
Kalau tidak karena engkau Gus
Siapa yang membela kami
Aku rindu untuk mencium tanganmu
Aku rindu senda guraumu
Aku rindu kesederhanaanmu
Kalau tidak karena engkau Gus
Siapa yang akan membela kami
Apakah dia yang akan meneruskan cita-citamu
Apakah dia yang akan memimpin tanah airmu
Apakah dia yang ikhlas mengabdi untuk bangsamu
Gus,
Aku ingin mencium jejak wangimu
[Tebu Ireng, 10 November 2025]
Cinta dalam Sepotong Dosa
Di sebuah pojok kursi perpustakaan kampus biru
Di situ aku selalu bersembunyi membunuh waktu
Membaca buku
Diiringi alunan suara lembut lagu
Dan kicau burung diluar jendela
Di situ kita bertemu
Di situ kita hanya saling termangu
Tanpa tegur sapa
Tanpa berani kenalan
Kita saling membisu
Tapi engkau selalu melihatku
Engkau selalu memperhatikanku
Engkau pun seperti hafal setiap judul buku yang kukembalikan di rak buku
Dan akhirnya kita saling tahu
Engkau gagah
Engkau tampan
Engkau perhatian
Dan aku selalu tertunduk malu
Entah mengapa engkau mulai mengganggu perasaanku
Entah mengapa hatiku risau
Waktu kubaca sajak cintamu
Entah mengapa aku risau
Waktu engkau kirimkan karya Pramoedya Ananta Toer
Apa engkau tidak tahu
Bahwa membaca trilogi buku Pram dilarang!
Lantas aku ini harus bagaimana
Aku tak punya nyali untuk menerima cintamu
Tapi engkau terus menggoda
Merayu
Dan melepaskan cinta
Kau tak tahu perasaanku
Saat orang tuaku tidak setuju pilihanku
Karena semua orang takut stempel merah itu
Kau tak tahu perasaanku
Semua orang menghindar darimu
Engkau tidak salah. Karena engkau tidak bisa memilih
Karena engkau harus lahir ke dunia
Karena itu kehendakNya
Tapi mengapa kita harus terbelenggu cinta
dalam dosa politik. Kita terjebak
dalam cinta yang tidak ada ujung jalannya
Berhentilah saling mencaci
Berhentilah saling menyalahkan
Berhentilah saling menganggap merasa benar
Karena sesungguhnya generasi mendatang harus saling berangkulan
Harus menjadi bangsa besar: Indonesia
[Gabugan, 2 November 2025]



Teruslah berkarya..semoga karyanya suatu saat bisa menjadi sebuah buku…sukses terus…
Alhamdulillah, bagus banget pesannya sangat kuat dan dalam.
Lanjut
Kereeeen ridho kalam mulyo
Bagus ketiga puisinya ,saya seneng yg judulnya Gus, aku ingin nencium jejak wangimu. Ada sikap legowo , perjuangan dan keikhlasan yang luar biasa
Bahasanya lugas dan penuh pesan, Penyampaiannya sederhana tapi dalam, ditunggu karya – karya selanjutnya ya om😁👍🏻
Bagus jg nih sajaknya👍