Kelimutu, Ende, 2025. [AR]

Aku mencari cahaya
Ketika gelap malam menyelimuti dunia
Tidak ada percikan lentera bintang di langit
Tidak ada bayangan bulan di atas jagad raya

Aku mencari cahaya
Ketika terperosok ke lembah purba
Bau dupa
Bau kembang tiga rupa
Bau air api
Bau wewangian sang penari
Mengikatku semakin jauh
Menenggelamkan jiwa yang semakin rapuh

Aku mencari cahaya
Saat ditelan durjana
Di tengah pergantian malam dan siang
Di tengah pergantian siang dan malam
Langit dan bumi merampas jiwaku
Udara bagai bara api
Tanah bagai menyumpal mulutku
Air laksana tercurah magma Merapi

Aku mencari cahaya
Menyusuri bebatuan
Di ujung tanah gersang
Di balik gunung menjulang
Di tepi laut pantai selatan
Dan Rumah Branjang akhirnya ketemukan

[Ngawis Karangmojo, 2 November 2025]

Lampu Merah Kalibata

Pagi belum beranjak pergi
Di simpang lampu merah Kalibata
Petugas pengatur lalu lintas berdiri
Inilah bara api kemacetan kota Jakarta
Arus lalu lintas mendesak maju tiada henti
Bising klakson, semburan debu dan asap knalpot menghias wajah lusuh pengendara
Semua berebut ingin pergi
Semua ingin keluar berlari
Lampu hijau begitu dinanti

Siang terik menyengat menjemput matahari
Di simpang lampu merah Kalibata
Kendaraan bagai semut mengantri
Berapa ribu liter BBM terbakar mencemari
Rakyat kecil, pengamen, pengemis, pengasong menjerit terlilit harga tinggi
Mereka tak punya pilihan kerja
Mereka tak tahu negara dimainkan mafia
Lampu merah adalah hidupnya

Sore mulai redup
Matahari terlalu lama bersembunyi
Simpang lampu merah Kalibata macet lagi
Ratusan kendaraan membanjiri
Segala emosi
Segala kemarahan
Segala umpatan
Segala caci maki
Tumpah bagai tragedi

Malam mulai mengikis langit Jakarta
Dingin angin menerpa simpang lampu merah Kalibata
Ada suara tawa
Ada wajah gembira
Ada rasa bahagia
Saat para pengamen, pengasong, pengemis, berkumpul menghitung receh
Sekedar cukup sebungkus nasi
Tapi di atas sana
Di hunian bangunan menjulang tinggi
Para koruptor dan mafia tak berpesta lagi
Saat lahan tambang diobrak-abrik para kesatria sejati

[Pasar Minggu, 20 November 2025]

Tanah Wonodoyo

Aku hanya menuruti kata hatiku
Saat mata ini buta untuk melihatmu
Saat mulut ini bisu untuk menyapamu
Bukan karena bisikan menggodaku
Bukan karena kecantikan wajahmu
Bukan karena kemolekan tubuhmu
Tapi hati masih beku

Aku hanya menuruti kata hatiku
Meski angin mengingatkanku
Melihat kembali jejak langkahmu
Melihat pematang tegalan yang dulu sepi
Melihat gubuk yang dulu sunyi
Tanpa dinding pagar berduri

Aku hanya menuruti kata hatiku
Saat mata terbuka
Kini tak ada lagi yang menjengukmu
Kini tak ada lagi yang melihatmu
Kini tak ada lagi yang menyentuhmu
Karena mereka melupakanmu

Aku hanya menuruti kata hatiku
Saat air membasahi mukaku
Saat air membasahi lenganku
Saat air membasahi kakiku
Di tanahku Wonodoyo
Aku mencari jalan-Mu
Aku mendekati-Mu
Aku menemukan-Mu

[Tambakromo, 2 November 2015]

Ridho Kalam Mulyo
Author: Ridho Kalam Mulyo

Ridho Kalam Mulyo atau kerap dipanggil RKM, lahir 20 Juli 1963 di Gunungkidul, Yogyakarta. Masa kecil hingga dewasa dihabiskannya di kota pelajar. Ia adalah seorang pensiunan PNS. Di sela-sela kesibukannya setelah purna tugas, bahkan jauh ketika remaja, ia sudah dan terus aktif menulis sajak. Baginya sajak tak ubahnya catatan harian. Membaca buku-buku politik sosial budaya, berolahraga dan bermusik, traveling dan wisata religi menjadi hobinya. Bersama keluarga kecilnya saat ini, ia tinggal di Depok, Jawa Barat.

By Ridho Kalam Mulyo

Ridho Kalam Mulyo atau kerap dipanggil RKM, lahir 20 Juli 1963 di Gunungkidul, Yogyakarta. Masa kecil hingga dewasa dihabiskannya di kota pelajar. Ia adalah seorang pensiunan PNS. Di sela-sela kesibukannya setelah purna tugas, bahkan jauh ketika remaja, ia sudah dan terus aktif menulis sajak. Baginya sajak tak ubahnya catatan harian. Membaca buku-buku politik sosial budaya, berolahraga dan bermusik, traveling dan wisata religi menjadi hobinya. Bersama keluarga kecilnya saat ini, ia tinggal di Depok, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *