Bukit Senggigi, Januari 2026. [Red]

A.

Satu tahun dalam perjalanan waktu
Kurang-lebih tiga ratus enam puluh lima hari
Kita telah menjalani tanah
Datar, lurus, mendaki dan menurun
Kalau hanya dijalani dengan sepasang mata
Yang rabun dekat dan rabun jauh
Tanpa dicatat mata nurani yang membatin
Maka itulah perjalanan gelap yang sesat
Tak tahu jalan pulang ke rumah muasal
Yang anggun lestari
Hilang bayang harga insan dan jati diri
Umur terukur hanya angka bilangan
Dalam sunyi sepi yang sekarat
Sebelum takdir saat berangkat.

B.

Mata nurani yang menatap atap langit
Sembari menghayati kening rembulan
Yang pentas kenduri Maha Pesona Cahaya Mu
Disaksikan kerlip gemintang dikelam gelap gemerlap
Kitab langit Mu tengah memijar huruf hijaiyah
Dipertegas tanda baca atas dan bawah
Kata pengantar diawali Surat Al Fatihah
Yang dilisankan berulang-ulang dalam shalat.

C.

Nama Mu dalam senarai doa
Pujian pada Mu jua
Pun mengukir zikir
Mengembun di ubun-ubun
Menggetar urat di parit saraf
Otak yang senantiasa bersujud
Di rumah berkubah dan terhampar sajadah
Di bumi busana hijau menawan indah.

[Pulau Sumbawa di bawah kaki langit, Jumat berkat, 2 Januari 2026]

LANGIT BIRU, BUMI HIJAU

Penyair menatap atap langit
Selalu biru melulu
Pun menapaki bumi
Busana hijau sungguh merebut hati.

Ribuan kunang-kunang di nadi malam
Kitalah kunang-kunang itu
Para pemuisi cinta kata-kata
Dari sebuah nusantara
Hingga anak-anak benua
Yang jauh samar sayup.

Yang menyalakan api di tungku waktu
Merebus manik-manik literasi
Sampai matang nasi mutiara puisi
Siap saji bagi generasi hari ini
Hingga para turun-menurun
Sampai ufuk selera zaman keadaban.

Baiklah kita riak ayat-ayat Iqra Mu
Di bawah guyuran
Cairan musim hujan
Sampai basah kuyup firman Mu
Lalu tetesi celah urat saraf parit badan-batin
Umat yang rindu dan cinta kasih Maha Kendali yang biru mata puisi fitri.

[Sumbawa Besar NTB Rabu – Tugu, 7 Januari 2026]

ESENSI DAN DOA BIRU

puisi doa
yang putih hati
merujuk langit biru Mu

mereka rumpun bunga
di taman halaman rumah
dalam barisan pot-pot warna biru yang baru
seluruh zat dan sifatku
milik Mu maha pakar

siang-terang benderang
malam gelap-gemerlap
bunga-bunga mekar berdoa ikhlas
begitu santun dan tulus
menadah jemari tangan daun
dari tirai lapisan awal hingga langit akhir menggetar
ditiup angin dari luar pagar

kembali jiwa-ragaku
segar-bugar
dalam perjalanan spiritual
Dien Islam, pikiran-perasaan
tegakkan pohon peradaban.

kupandang urat-urat saraf mengembang syukur
bagi sang waktu terhadap Maha Penentu
kabulkan kiranya wahai Kekasihku.

[Pulau Sumbawa di kaki langit, Sumbawa Besar, NTB, Selasa,13 Januari 2026]

Dinullah Rayes
Author: Dinullah Rayes

Dinullah Rayes lahir pada tahun 1937 di Desa Kalabeso, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ia merupakan putra dari pasangan H. Lalu Muhiddin Rayes dan Hj. Ringgi. Karier pengabdiannya dimulai sebagai guru Sekolah Dasar pada tahun 1956 hingga 1965. Setelah itu, ia beralih tugas ke Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa di Sumbawa Besar. Seiring dengan proses reorganisasi kelembagaan, ia kemudian dipindahkan ke Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa dan dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Kebudayaan hingga memasuki masa pensiun pada tahun 1994. Dinullah Rayes aktif menulis sejak tahun 1956 hingga kini. Selain puisi sebagai genre utama, ia juga menulis cerpen, naskah drama, serta esai budaya, artikel seni, dan karya nonfiksi lainnya dalam kapasitasnya sebagai wartawan. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, baik tingkat pusat maupun daerah, serta di media cetak di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Hingga saat ini, ia telah terlibat dalam penerbitan 77 judul buku sastra bersama sastrawan dan penyair dari dalam dan luar negeri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 37 judul merupakan karya sastra tunggal atas nama Dinullah Rayes. Dalam bidang apresiasi sastra, ia pernah meraih 10 besar puisi terbaik putra pada Lomba Cipta Puisi Islami tingkat nasional “IQRA” tahun 1992. Pada Lomba Cipta Puisi Nasional...

By Dinullah Rayes

Dinullah Rayes lahir pada tahun 1937 di Desa Kalabeso, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ia merupakan putra dari pasangan H. Lalu Muhiddin Rayes dan Hj. Ringgi. Karier pengabdiannya dimulai sebagai guru Sekolah Dasar pada tahun 1956 hingga 1965. Setelah itu, ia beralih tugas ke Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa di Sumbawa Besar. Seiring dengan proses reorganisasi kelembagaan, ia kemudian dipindahkan ke Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa dan dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Kebudayaan hingga memasuki masa pensiun pada tahun 1994. Dinullah Rayes aktif menulis sejak tahun 1956 hingga kini. Selain puisi sebagai genre utama, ia juga menulis cerpen, naskah drama, serta esai budaya, artikel seni, dan karya nonfiksi lainnya dalam kapasitasnya sebagai wartawan. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, baik tingkat pusat maupun daerah, serta di media cetak di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Hingga saat ini, ia telah terlibat dalam penerbitan 77 judul buku sastra bersama sastrawan dan penyair dari dalam dan luar negeri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 37 judul merupakan karya sastra tunggal atas nama Dinullah Rayes. Dalam bidang apresiasi sastra, ia pernah meraih 10 besar puisi terbaik putra pada Lomba Cipta Puisi Islami tingkat nasional “IQRA” tahun 1992. Pada Lomba Cipta Puisi Nasional Borobudur Award 1997 yang diselenggarakan Yayasan Gunungan Magelang, ia kembali meraih 10 puisi nominasi. Atas prestasinya sebagai sastrawan, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menganugerahkan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah pada tahun 1996. Karya-karya sastranya—yang didominasi puisi—telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, dan Rusia. Selain berkarya sastra, ia juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan kebudayaan, serta pernah dipercaya menjabat sebagai ketua umum dan sekretaris. Saat ini, Dinullah Rayes bermukim di Sumbawa Besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *