Puisi-Puisi RKM

4 Sajak Rindu Kyai, Rindu Negeri

Cirebon, 2026. [AR]

SAJAK UNTUK GUS

Sejak Gus pergi
Kata-katamu bagai patri di hati
Ujaran-ujaranmu kian terbukti
Celotehmu diteladani
Keikhlasanmu menjadi sendi-sendi bangsa ini.

Sejak Gus pergi
Rumah kita sepi sunyi
Rumah kita redup tanpa cahaya Ilahi
Tiang penyanggamu yang dulu kokoh
Sekarang rapuh terkulai lemas
Atapmu yang dulu teduh
Sekarang bocor sana-sini
Dan dinding tembok di pelosok negeri
Kini tak terlindungi

Sejak Gus pergi
Sungguh tak ada satu pemimpin yang peduli dengan rumah ini
Hutan yang dulu rindang kini dibabat tak  tersisa
Tanah yang dulu subur dikeruk jadi kolam-kolam tambang
Ikan yang dulu melimpah di lautan dijarah habis
Entah oleh siapa
Kini banjir dan kebakaran di mana-mana.

Sejak Gus pergi
Semua tutur kata para pemimpin kehilangan makna
Semua orang saling sikut
Semua orang saling injak
Semua berebut kuasa
Mencuri menilap tidak malu-malu lagi
Tak ada tempat untuk berlindung
Dan mengadu bagi rakyat kecil
Keadilan bagitu mahal
Karena keadilan bukan untuk rakyat kecil
Tapi buat tuan-tuan besar.

[Jogjakarta 28/8/2026]

PERJALANAN KE JOMBANG

Di kereta malam
Aku hanya duduk diam
Secangkir kopi pahit menemaniku
Sembari memeluk gelap malam
Dan menunggu pagi datang

Detak waktu begitu lama
Di timpa jerit roda kereta
Memecah sunyi malam
Seperti jiwa rakyat: lemah
Tersiksa
Tanpa darah
Tanpa gairah

Gerbong rakyat ini mau dibawa ke mana
Akupun tidak tahu
Tapi aku merasakan
Kereta berjalan terlalu lama tanpa kepala
Dan rakyat dibungkam tanpa suara
Rakyat kehilangan kritisnya
Rakyat kebingungan tanpa arah
Rakyat kelaparan karena tiada yang tersisa
Lihatlah bumi air alam seisinya telah dijual kepada oligarki

Aku hanya ingin segera tiba di Jombang
Rindu kepada para Kyai
Rindu kepada para santri
Rindu lahirnya para pemimpin sejati.

[Jakarta 25/8/2026]

PARADOKS

Aku hanya mengingatkan
Kejahatan itu hal buruk
Kebenaran itu hal baik
Tapi mengapa engkau putar balikkan fakta
Kejahatan itu baik
Kebaikan itu buruk
Bahwa paradoks itu biasa
Sehingga rakyat tidak terima.

Aku hanya mengingatkan
Koruptor adalah maling
Oligarki adalah perampok
Mafia adalah penjahat
Tapi mengapa engkau beri mereka gelar kehormatan
Sehingga rakyat menjadi murka.

Aku hanya mengingatkan
Kebenaran harus diluruskan
Hukum harus ditegakkan
Rakyat harus dapat keadilan
Birokrat dan aparat busuk harus dijebloskan dalam kurungan
Tapi mengapa penilap uang negara tetap dibiarkan
Sehingga rakyat bertanya
Ada apa?

Aku hanya mengingatkan
Karena rakyat selalu bertanya
Bangsa ini hendak dibawa kemana
Kalau kepalsuan tetap merajalela.

[Gunung Purbo 29/12/25]

DINDING KEADILAN

Dinding keadilan itu tipis, kawan!
Karena semua bisa di rekayasa
Semua janji bisa diingkari
Semua fakta bisa diabaikan
Kebenaran diingkari
Kebohongan diterima
Karena hati nurani sudah tidak ada

Dinding keadilan itu tipis, kawan!
Semua peraturan sudah dilanggar
Semua peraturan bisa dimainkan
Rakyat kecil semakin terjauhkan
Semua mengabdi kepada uang

Dinding keadilan itu tipis, kawan!
Bawahan takut pada atasan
Bawahan hanya melaksanakan perintah atasan
Bawahan harus setor ke atasan
Atasan juga dimainkan oleh uang
Semua menjadi pecundang.

Dinding keadilan itu tipis, kawan!
Seperti kaca jernih
Seperti kaca bening menggoda
Seperti kaca yang mudah retak
Lalu pecah
Maka keadilan bukan milik segolongan.

Dengarkan kawan!
Dinding keadilan itu tidak mungkin tipis
Kalau ada moral sebagai pijakan
Kalau ada keberanian dan kejujuran untuk ditegakkan
Saat rakyat teriak lantang: Kami menuntut keadilan!

Bandung 1/01/26]

Ridho Kalam Mulyo
Author: Ridho Kalam Mulyo

Ridho Kalam Mulyo atau kerap dipanggil RKM, lahir 20 Juli 1963 di Gunungkidul, Yogyakarta. Masa kecil hingga dewasa dihabiskannya di kota pelajar. Ia adalah seorang pensiunan PNS. Di sela-sela kesibukannya setelah purna tugas, bahkan jauh ketika remaja, ia sudah dan terus aktif menulis sajak. Baginya sajak tak ubahnya catatan harian. Membaca buku-buku politik sosial budaya, berolahraga dan bermusik, traveling dan wisata religi menjadi hobinya. Bersama keluarga kecilnya saat ini, ia tinggal di Depok, Jawa Barat.

By Ridho Kalam Mulyo

Ridho Kalam Mulyo atau kerap dipanggil RKM, lahir 20 Juli 1963 di Gunungkidul, Yogyakarta. Masa kecil hingga dewasa dihabiskannya di kota pelajar. Ia adalah seorang pensiunan PNS. Di sela-sela kesibukannya setelah purna tugas, bahkan jauh ketika remaja, ia sudah dan terus aktif menulis sajak. Baginya sajak tak ubahnya catatan harian. Membaca buku-buku politik sosial budaya, berolahraga dan bermusik, traveling dan wisata religi menjadi hobinya. Bersama keluarga kecilnya saat ini, ia tinggal di Depok, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *