Kanci, Astanajapura, Cirebon, 2025. [AR]

Apa kau dengar suara pohon menangis?
Ketika tanah bersama bio plasma nutfah tergusur buldozer para mafia
Segala jenis aneka ragam hayati warisan untuk anak cucu diaborsi
mati. Luka menganga
Dan darah mengalir dari tubuhnya tak dirasa
Waktu gergaji algojo membantai habis tubuh batang raksasa
Kerakusan manusia telah membabi buta
Tak ingatkah alam akan membalasnya?

Apa kau dengar suara pohon menangis?
Ketika bumi dikelupas
Payung hijau rumah segala satwa tak tersisa
Karbondioksida atmosfer udara porak poranda
Tak sadarkah alam akan membalasnya?

Apa kau dengar suara pohon menangis? Tiada hujan basahi rambut hijaumu
Tiada tempat mengadu
Atau meratap pilu
Segala dalih ekonomi membonsaimu
Tidak takutkah alam akan membalasnya?

Apa kau dengar pohon menangis?
Mereka hanya termangu
bisu. Waktu isi perut bumi ditikam
Dikeruk. Lalu mengalir deras emas
Nikel dan batu bara, timah dan bauksit Tembaga dan segala turunannya
Maka pestapora seluruh mafia
Tak peduli rakyat menderita
Tak peduli rakyat menanggung derita
Tak takutkah engkau akan dosa?

Apa kau dengar suara pohon menangis?
Sekian lama menunggu sang raja rimba Pemilik singgasana hutan nusantara
Menerkam mencabik-cabik para mafia
Melemparnya ke jurang penjara
Selamatkan Indonesia!

[Tenggarong, 20 Juni 2021]

Ndan, Ini Salah Siapa?

Ndan
Jika Tuhan menimpakan bencana
Tak ada yang dapat mencegahnya

Ndan
Jika Tuhan berpesan kepada manusia
Jaga bumi seisinya!
Kita seringkali lupa
Kesombongan
Ketamakan
Kerakusan
Akan harta
Telah membuat semua buta
Hutan dibabat
Tanah dikelupas
Bumi disedot
Laut dikeruk tak bersisa
Dan kekeringan membakar belantara
Banjir melahap semua
Pemimpin kehilangan jati dirinya
Penguasa dikangkangi cukong mafia

Ndan
Ini salah siapa?
Rakyat bertanya: Wakilku di mana?

Ndan
Jika Tuhan mengulurkan kebaikan
Dia tak pernah membeda-bedakan
Dia Maha Pemberi
Dia Maha Kaya
Hartanya tak habis di tujuh samudera
Hartanya tak lekang di tujuh benua

Ndan
Tuhan itu Maha Bijaksana
PesanNya agar kita berbagi pada sesama
Tapi kita tak mau melaksanakan
Malah terus mengingkarinya

Ndan
Tuhan adalah hakim terbaik
Kita tak dapat menyuapnya
Kita tak bisa membela
Kita sulit menolaknya
Maka
Penyesalan itu tiada guna

[Sepaku, 20 Februari 2022]

Sajak Di Ladang Kering

Di ladang kering ini
Hujan tak pernah turun
Kehidupan seperti mati
Hanya batu kapur
Dan rumput ilalang sebagai saksi

Di ladang kering ini
Kemiskinan menjadi abadi
Tapi semangat hidup petani
Adalah bara api

Di ladang kering ini
Benih cinta telah bersemi
Menyiram
Menyemai hati

Di ladang kering ini
Kita bangun bahtera cinta
Sebuah pondok beratap jerami
Mengisi hari-hari
Mengais mimpi

Di ladang kering ini
Katanya rakyat akan hidup makmur
Pekerjaannya bukan lagi sebagai petani
Tapi mengapa orang-orang itu mengukur tanah kami
Katanya akan dapat kompensasi dengan harga tinggi
Karena proyek besar bakal berdiri

Di ladang kering ini
Kami tak mengerti
Kami tak bisa membaca pikiran dan hati orang kota
Mengapa kami harus tergusur seperti ini

Di ladang kering ini
Akhirnya kami hanya jadi pengemis jalanan
Kami hanya meratapi nasib
Dan tak punya apa-apa lagi
Tersungkur
Tersingkir
Kalah
Lalu
Mati

[Denggung, Sleman, 20 Agustus 2024]

Ridho Kalam Mulyo
Author: Ridho Kalam Mulyo

Ridho Kalam Mulyo atau kerap dipanggil RKM, lahir 20 Juli 1963 di Gunungkidul, Yogyakarta. Masa kecil hingga dewasa dihabiskannya di kota pelajar. Ia adalah seorang pensiunan PNS. Di sela-sela kesibukannya setelah purna tugas, bahkan jauh ketika remaja, ia sudah dan terus aktif menulis sajak. Baginya sajak tak ubahnya catatan harian. Membaca buku-buku politik sosial budaya, berolahraga dan bermusik, traveling dan wisata religi menjadi hobinya. Bersama keluarga kecilnya saat ini, ia tinggal di Depok, Jawa Barat.

By Ridho Kalam Mulyo

Ridho Kalam Mulyo atau kerap dipanggil RKM, lahir 20 Juli 1963 di Gunungkidul, Yogyakarta. Masa kecil hingga dewasa dihabiskannya di kota pelajar. Ia adalah seorang pensiunan PNS. Di sela-sela kesibukannya setelah purna tugas, bahkan jauh ketika remaja, ia sudah dan terus aktif menulis sajak. Baginya sajak tak ubahnya catatan harian. Membaca buku-buku politik sosial budaya, berolahraga dan bermusik, traveling dan wisata religi menjadi hobinya. Bersama keluarga kecilnya saat ini, ia tinggal di Depok, Jawa Barat.

2 thoughts on “<span style='color:#ff0000;font-size:16px;'>Puisi-Puisi RKM</span> <h/1> <span style='font-size:14px;'><h3>Apa Kau Dengar Suara Pohon Menangis?</h3>”
  1. Bagus puisinya, mengingatkan kita untuk tidak berbuat semena mena terhadap alam. Sebab kalau kita lakukan itu, maka bencana yang akan terjadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *