I. SAJAK CINTA DI SIMPANG JALAN REFORMASI
Apakah engkau ingat cemara-cemara kampus biru masih tegak berdiri
Saat kita melangkah berdua
Menyusuri jalan setapak bulevar itu
Betapa indah tawamu
Betapa indah senyummu
Dan kubiarkan tanganmu meraih erat tanganku
Karena jemari telah saling berjanji
Tak ada kata terucap lagi
Apakah engkau ingat cemara-cemara kampus biru masih tegak berdiri
Kau katakan telah menyusun agenda aksi
Sebentar lagi massa aksi akan turun ke jalan
Reformasi total!
Apakah engkau ingat cemara-cemara kampus biru masih tegak berdiri
Kita bertemu sekejap mengejar waktu
Kau katakan, “jangan berhenti berjuang untuk negeri”
Kau katakan, “agenda aksi telah dibubarkan polisi
Satu persatu terciduk dan harus masuk bui!”
Apakah engkau ingat cemara-cemara kampus biru masih tegak berdiri
Berapa ribu kali engkau tak membalas surat cintaku
Berapa ribu kali aku berdoa untuk kuatkan hati
Jangan kau tanya betapa aku lelah menanti
Jangan kau tanya betapa jiwaku sepi
Resah gelisah
Menjadi selimut mimpi
Apakah engkau ingat cemara-cemara kampus biru masih tegak berdiri
Saat keluarga telah tetapkan jodohku nanti
Aku tak berdaya
Aku wanita lemah
Tak sepertimu
Tapi itu sudah berlalu
Karena reformasi bukan milikku
[Denggung, Sleman, 20 Agustus 2024]
II. SAJAK MENUNGGU CINTA
Mengapa engkau tatap mataku
Hingga aku jatuh tersungkur
Lunglai
Kaki bagai tak bersendi
Mengapa engkau datang padaku
Tanpa kata
Tanpa suara
Hingga melambungkan harapanku
Mengapa engkau permainkan jiwaku
Padahal aku selalu menunggumu
Di sudut
Kampus biru
[Yogyakarta, 22 Agustus 2024]
III. CINTA BERBALUT PELANGI
Di ranjang kelambu
Kupikir engkau akan tumpahkan cintamu
Kupikir engkau akan tumpahkan nafsu
Betapa jarak pisahkan waktu
Di ranjang kelambu
Kupikir kita akan saling memagut rindu
Betapa getaran ujung jari
Bagai belitan tali
Betapa gejolak birahi
Melemahkan nurani
Di ranjang kelambu
Aku telah membuka pintu
Aku telah membuka tirai pengantinku
Tapi mengapa tiada kecupan di dahi
Tapi mengapa tiada sentuhan birahi
Aku sengsara
Aku kecewa
Aku merana
Aku tak mengira
Cintamu berbalut pelangi
Semua tak berarti
[Wonosari, 29 November 2025]
IV. SAJAK CINTA DI RUMAH TUA
Hujan di pagi mengantar kita bertemu di sini
Kehangatan cinta yang datang di hati
Membawa kita seperti lahir kembali
Kita berteduh di bangunan tua zaman Belanda
Hanya kita berdua
Hanya engkau dan aku
Sepi
Sunyi
Engkau tersenyum lembut
Saat aku usap butiran air hujan basahi rambutmu
Nafsu mulai menggoda darahku
Hembusan nafasmu menderu lembut
Seakan menembus dinding jantungku
Kau genggam jemariku
Kau peluk hangat tubuhku
Aku telah lupa segalanya
Aku ternoda kotoran debu rumput liar
Bayang-bayang semu telah menggodaku
Semoga Engkau mengampuniku
[Sorogedug, 29 Oktober 2025]
V. SAJAK NYALI CINTA
Sejak awal mengenalmu
Aku tak pernah punya nyali untuk mendekatimu
Tapi bayangmu selalu hadir menghias tidurku
Aku terdiam di depan rumahmu
Cinta itu membakar hatiku
Cinta itu meracuni hidupku
Aku sadar
Cinta itu bukan rasa semata
Cinta tak harus memilki
Kita hanya bisa mengenangnya
Sebelum menutup mata
[Semarang, 21 Oktober 2025]


