Pulosari, Sukabumi, di punggung Gunung Salak, 2018. [AR]

Saat pertama tiba di kotamu

Bara api protes mahasiswa dan buruh di mana-mana

Semua teriak lantang

Naikkan upah!

Turunkan harga!

Berantas kolusi!

Berantas korupsi!

Berantas Nepotisme!


Saat pertama tiba di kotamu

Tak ada yang menjemputku

Ini bagai kota hantu

Tak ada orang di jalan

Tak ada kendaraan lalu lalang

Yang ada barikade penghalang jalan

Ini demi keamanan?


Saat pertama tiba di kotamu

Ruko dan mall terbakar

Semua ketakutan

Semua menjerit

Semua menangis

Semua jadi korban seperti arang

Bangsaku menjadi sorotan dunia

Tapi tiba-tiba semua berganti euforia

Saat sang raja menyatakan turun takhta


Katanya zaman reformasi dimulai

Semua teriak bebas

Semua mengkritik bebas

Para pemimpin tidak ada arti

Karena Sang Kolo Bendu justru membabi buta


Semua menjadi gila

Yang tidak ikut gila tidak dapat apa-apa

Mencuri sudah biasa

Korupsi tetap merajalela,

Semua tak ada malunya


Wahai Sang Kolo Bendu!

Kapan zamanmu berakhir?

Apa bangsa ini akan selamat atau kiamat?

Jawabnya pasti ada

Tapi kalau sudah muncul pemimpin-pemimpin yang membela rakyat

Pemimpin yang malu kepada rakyatnya


Dan Sang Kolo Bendu akan hancur lebur

Kalau telah muncul pemimpin yang selalu dekat dan peduli rakyatnya

Pemimpin yang ikhlas tulus untuk bangsanya

Pemimpin yang tidak rakus harta dunia

Hanya pemimpin yang berani tegakkan hukum

Dan berani menantang dunia


[Cijaura Girang, 27 November 25]

GUS, AKU INGIN MENCIUM JEJAK WANGIMU

Kalau tidak karena engkau Gus

Siapa yang membela kami

Semua orang membenciku

Semua orang menyudutkanku

Hanya karena kuning kulitku

Hanya karena sipit mataku

Padahal aku sudah lahir tumbuh di sini


Kalau tidak karena engkau Gus

Siapa yang membela kami

Ketakutan sudah tak ada lagi

Diskriminasi dibuang mati

Kebebasan diberi ruang tersendiri

Meski hujatan tetap engkau hadapi

Tiada takut lari


Kalau tidak karena engkau Gus

Siapa yang membela kami

Engkau terlalu pintar

Engkau terlalu bersahaja

Engkau apa adanya

Engkau tidak pernah kompromi

Engkaupun diserang serigala politik

Bagai musuh abadi


Kalau tidak karena engkau Gus

Siapa yang membela kami

Engkau lepaskan takhta demi bangsamu

Engkau ikhlaskan takhta demi persatuan negerimu

Engkau singkirkan nafsu demi tanah airmu


Kalau tidak karena engkau Gus

Siapa yang membela kami

Aku rindu untuk mencium tanganmu

Aku rindu senda guraumu

Aku rindu kesederhanaanmu


Kalau tidak karena engkau Gus

Siapa yang akan membela kami

Apakah dia yang akan meneruskan cita-citamu

Apakah dia yang akan memimpin tanah airmu

Apakah dia yang ikhlas mengabdi untuk bangsamu


Gus,

Aku ingin mencium jejak wangimu


[Tebu Ireng, 10 November 2025]

Cinta dalam Sepotong Dosa

Di sebuah pojok kursi perpustakaan kampus biru

Di situ aku selalu bersembunyi membunuh waktu

Membaca buku

Diiringi alunan suara lembut lagu

Dan kicau burung diluar jendela


Di situ kita bertemu

Di situ kita hanya saling termangu

Tanpa tegur sapa

Tanpa berani kenalan

Kita saling membisu

Tapi engkau selalu melihatku

Engkau selalu memperhatikanku

Engkau pun seperti hafal setiap judul buku yang kukembalikan di rak buku

Dan akhirnya kita saling tahu


Engkau gagah

Engkau tampan

Engkau perhatian

Dan aku selalu tertunduk malu


Entah mengapa engkau mulai mengganggu perasaanku

Entah mengapa hatiku risau
Waktu kubaca sajak cintamu

Entah mengapa aku risau

Waktu engkau kirimkan karya Pramoedya Ananta Toer

Apa engkau tidak tahu

Bahwa membaca trilogi buku Pram dilarang!


Lantas aku ini harus bagaimana
Aku tak punya nyali untuk menerima cintamu

Tapi engkau terus menggoda

Merayu

Dan melepaskan cinta


Kau tak tahu perasaanku

Saat orang tuaku tidak setuju pilihanku

Karena semua orang takut stempel merah itu

Kau tak tahu perasaanku

Semua orang menghindar darimu

Engkau tidak salah. Karena engkau tidak bisa memilih

Karena engkau harus lahir ke dunia

Karena itu kehendakNya


Tapi mengapa kita harus terbelenggu cinta

dalam dosa politik. Kita terjebak

dalam cinta yang tidak ada ujung jalannya

Berhentilah saling mencaci

Berhentilah saling menyalahkan

Berhentilah saling menganggap merasa benar

Karena sesungguhnya generasi mendatang harus saling berangkulan

Harus menjadi bangsa besar: Indonesia


[Gabugan, 2 November 2025]

Ridho Kalam Mulyo
Author: Ridho Kalam Mulyo

Ridho Kalam Mulyo atau kerap dipanggil RKM, lahir 20 Juli 1963 di Gunungkidul, Yogyakarta. Masa kecil hingga dewasa dihabiskannya di kota pelajar. Ia adalah seorang pensiunan PNS. Di sela-sela kesibukannya setelah purna tugas, bahkan jauh ketika remaja, ia sudah dan terus aktif menulis sajak. Baginya sajak tak ubahnya catatan harian. Membaca buku-buku politik sosial budaya, berolahraga dan bermusik, traveling dan wisata religi menjadi hobinya. Bersama keluarga kecilnya saat ini, ia tinggal di Depok, Jawa Barat.

By Ridho Kalam Mulyo

Ridho Kalam Mulyo atau kerap dipanggil RKM, lahir 20 Juli 1963 di Gunungkidul, Yogyakarta. Masa kecil hingga dewasa dihabiskannya di kota pelajar. Ia adalah seorang pensiunan PNS. Di sela-sela kesibukannya setelah purna tugas, bahkan jauh ketika remaja, ia sudah dan terus aktif menulis sajak. Baginya sajak tak ubahnya catatan harian. Membaca buku-buku politik sosial budaya, berolahraga dan bermusik, traveling dan wisata religi menjadi hobinya. Bersama keluarga kecilnya saat ini, ia tinggal di Depok, Jawa Barat.

7 thoughts on “<span style='color:#ff0000;font-size:16px;'>Puisi-Puisi RKM</span> <h/1> <span style='font-size:14px;'><h3>Sajak Sang Kolo Bendu</h3>”
  1. Bagus ketiga puisinya ,saya seneng yg judulnya Gus, aku ingin nencium jejak wangimu. Ada sikap legowo , perjuangan dan keikhlasan yang luar biasa

  2. Bahasanya lugas dan penuh pesan, Penyampaiannya sederhana tapi dalam, ditunggu karya – karya selanjutnya ya om😁👍🏻

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *