Perjalanan mengelilingi Pulau Lombok hingga sejauh 400 kilometer dengan sepeda adalah pengalaman yang sungguh menyenangkan sekaligus penuh makna. Saya mengikutinya dalam event Ultra Ride the Island Lombok 400 KM, sebuah tantangan bersepeda ultra-endurance tanpa dukungan, yang lebih menekankan sportivitas dan eksplorasi ketimbang kompetisi. Start kami dimulai pukul 04.00 subuh dari Hotel Santika, Mataram, saat kota masih terlelap dan udara dini hari terasa begitu bersahabat.
Jalur sepanjang 400 kilometer membawa kami melintasi garis pantai, pegunungan, hingga desa-desa tradisional Lombok. Setiap kayuhan menghadirkan pemandangan yang menakjubkan sekaligus mempertemukan saya dengan banyak orang baik. Di tengah perjalanan, hujan dengan angin kencang dan banjir menjadi tantangan tersendiri. Namun justru di situlah cerita-cerita berharga lahir.
Saya bertemu dengan sahabat baru, Pak Dedy Chandra, pesepeda asal Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kami sempat terpisah dari Pak Kisman, sahabat awal perjalanan yang berdomisili di Dompu, Sumbawa, karena ponselnya rusak terkena hujan deras di wilayah Mekaki, Lombok Barat. Menjelang magrib, saya tiba di Desa Jero Waru dan duduk singgah di sebuah warung kopi, menunggu kawan-kawan yang melintas agar bisa melanjutkan perjalanan bersama menuju checkpoint berikutnya di Labuhan Haji.
Tak lama kemudian, kami bertiga kembali dipertemukan. Di Warung Pak Sudirman, kami beristirahat sejenak, menyeruput kopi, berbagi cerita, dan mengisi ulang energi. Tubuh yang lelah rasanya sedikit pulih oleh secangkir kopi dan obrolan ringan. Dari perjalanan panjang ini, saya semakin percaya bahwa selalu ada orang baik di setiap persinggahan.




Tanpa selimut, tanpa bantal, kami merebahkan tubuh sekadar untuk memejamkan mata. Awalnya kami berniat melanjutkan perjalanan pukul 02.00 subuh. Namun problem muncul: lampu depan sepeda saya dan Pak Kisman bermasalah. Pak Dedy dengan lapang dada menawarkan bantuan, meminta kami mengikuti kayuhan sepedanya hingga Desa Sambelia untuk melapor ke checkpoint berikutnya.
Kami melaju perlahan, berbagi cerita di sepanjang jalan, sementara siluet Gunung Rinjani mulai menyapa dalam temaram pagi. Ayunan sepeda yang naik-turun terasa seperti tarikan napas yang berirama—mengajari kami kesabaran dan ketekunan. Perjalanan ini bukan sekadar soal jarak, tetapi tentang belajar memahami diri dan menerima keterbatasan, seraya terus bergerak.
Ketika akhirnya memasuki Kota Mataram, tepat di depan Kantor Bank Indonesia, kaki saya terasa sudah tak mampu lagi mengayuh. Saya menghubungi panitia dan menyampaikan kondisi tersebut. Tak lama, Ko Yanto menelepon dan memberi semangat, “Ayo, Bro, harus bisa masuk finis.” Kalimat sederhana itu membangkitkan kembali tekad saya.
Dengan kayuhan pelan namun penuh niat, saya melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di Acibara, Rembiga, Mataram—garis finis yang menjadi saksi tuntasnya perjalanan panjang ini. Sebuah perjalanan yang melelahkan, menyenangkan, dan sarat makna, yang akan selalu saya kenang.


