Di dua kerajaan besar, Astina dan Pringgodani, terjadi permusuhan yang sengit. Konflik ini bermula ketika Raja Pringgodani, Prabu Tremboko, gugur dalam duel melawan Raja Astina, Prabu Pandu Dewanata.
Prabu Tremboko meninggalkan lima anak: Dewi Arimbi, Arimba, Kala Bendono, Brojo Dento,
dan Brojo Musti. Setelah kematian sang baginda, Kerajaan Pringgodani menjadi rebutan antara Dewi Arimbi dan Arimba.
Suatu malam, Dewi Arimbi bermimpi bertemu dengan jodohnya, seorang satria dari Ksatrian Jodipati bernama Bima. Ia segera menceritakan mimpi tersebut kepada Arimba, namun Arimba marah dan tidak setuju karena Bima adalah anak dari Pandu Dewanata, pembunuh ayahanda mereka.
Dewi Arimbi tidak peduli dengan keberatan Arimba. Ia berlari ke hutan untuk mencari Bima. Ketika mereka bertemu, Dewi Arimbi mencurahkan isi hatinya dan mengungkapkan keinginannya untuk menjadi istri Bima.
Namun, Bima tidak menjawab dan malah berlari ketakutan karena wajah Dewi Arimbi yang buruk dan menakutkan. Ia menganggap Dewi Arimbi seperti Wewe Gombel. Dewi Arimbi terus mengejar Bima hingga akhirnya bertemu dengan Dewi Kunthi, ibu Bima.
Dewi Kunthi mengetahui keinginan Dewi Arimbi dan memutuskan untuk membantunya. Dengan kekuatan para dewa, Dewi Kunthi memberikan busana kepada Dewi Arimbi yang mengubah wajahnya menjadi cantik jelita.
Bima terpesona oleh kecantikan Dewi Arimbi dan mau memperistrinya dengan satu syarat: Arimba harus mati. Dewi Arimbi menyanggupi syarat tersebut dan memohon petunjuk para dewa.
Tak lama kemudian, terjadi duel maut antara Arimba dan Bima. Bima unggul dan Arimba gugur di medan laga. Dewi Arimbi melahirkan seorang anak yang diberi nama Raden Gatotkaca, kelak menjadi satria dari Pringgodani dan Raja Kerajaan Pringgodani.
Kisah cinta Dewi Arimbi dan Bima menjadi bukti bahwa cinta dapat mengatasi segalanya, bahkan darah dan keluarga.
[Tulisan ini pertama dimuat di media STAN83, Edisi 3, April 2025]


