Jenggala, Tanjung, Lombok Utara, 2025. (Rehal.id)

Dalam kehidupan seseorang atau sekelompok orang, pasti ada perbedaan, pergesekan, bahkan perseteruan yang mungkin tajam, dan ibaratnya sampai tingkat permusuhan. Dalam pandangan hidup, keyakinan, ekonomi, atau politik, bahkan tak lepas juga yaitu dalam kebudayaan.

Di negara tercinta, Indonesia. Zaman Orde Lama, pernah timbul Manifesto Kebudayaan (Manikebu), yang akhirnya menimbulkan perpecahan dan friksi-friksi yang tajam, di antara seniman, sastrawan, dan budayawan, ada golongan kiri, golongan kanan, dan independen.

Nah, zaman terus berlalu, usia bertambah dan bisakah yang bermusuhan bersatu? Saling memaafkan,
berangkulan dalam damai, Saling Asah, Saling Asih dan Saling Asuh, seperti teman-teman STAN83? Menuju tataran bijaksana?

Cerita bahwa sastrawan Mochtar Lubis dapat Penghargaan Magsaysay dari pemerintah Filipina. Karyanya Harimau! Harimau! yang terkenal, statusnya sebagai pendiri Majalah Horizon dan jurnalis senior, jadi
pertimbangan dewan juri. Dan benar Hadiah Magsaysay diterima.

Waktu berlalu, dan setelah itu, puluhan tahun kemudian, terdengar berita bahwa sastrawan Pramoedya Ananta Toer akan menerima hadiah serupa, yakni Penghargaan Magsaysay dari Filipina. Karya trilogi, Bumi Manusia, Jejak Langkah, dan Rumah kaca, jadi karya fenomenal, juga Perburuan dan karya-karya yang lain, jadi pertimbangan dewan juri.

Mendengar itu Mochtar Lubis tidak terima dan bersumpah akan mengembalikan hadiah yang pernah diterima seandainya Pramoedya Ananta Toer jadi menerima. Dewan juri tidak terpengaruh dan jadilah Pramoedya Ananta Toer menerima Magsaysay dari Filipina. Bersamaan itu pula Mochtar Lubis, mengembalikan Penghargaan Magsaysay yang pernah diterimanya.

Mereka kini telah wafat, baik Mochtar Lubis maupun Pramoedya Ananta Toer, kita doakan mereka, semoga meninggal dengan husnul hotimah, hidup tenang di alam keabadian, di sisi Tuhan.

Ini hanya sebuah renungan, perlukah bermusuhan sampai usia lanjut? Seperti air dan minyak? Bisakah kita belajar untuk memaafkan? Saling menerima dan saling mengasihi, bertambah dewasa, dan mencapai tingkat lebih bijaksana Amin.

[Tulisan ini pertama dimuat di media STAN83, Edisi 2, Desember 2024]

Wija Sasmaya
Author: Wija Sasmaya

Penulis dan penyair.

By Wija Sasmaya

Penulis dan penyair.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *