Lalu Agus Fathurrahman: Sang Penjaga Tradisi

Memulai sesuatu dengan niat
Mengakhirinya tidak karena putus asa
Mencari hikmah tidak dengan ilmu
Tapi dengan laku

(Sanggarguri—Lalu Agus Fathurrahman)

Namanya Haji Lalu Agus Fathurrahman. Biasa disapa sebagai Mamiq Agus. Dia lahir di Sengkol, Lombok Tengah, tepat pada tanggal 17 Agustus tahun 1957. Berbarengan dengan peringatan hari kemerdekaan.

Dia pensiunan pegawai negeri yang pernah menjabat Kepala Taman Budaya dan Kepala Museum Nusa Tenggara Barat.

Hingga kini dia telah menulis beberapa buku, antara lain: Kumpulan Esai Ilmu Sosial Dasar (1987), Konsepsi Arsitektur Lumbung Sasak (1989), Berhaji dengan Makna (2007), Kumpulan Esai Kebudayaan Menuju Masa Depan Peradaban (2007), Belajar Aksara Jejawan (2014), Tembang Suluk Tapel Adam (2014), dan lain-lain.

Di samping menulis esai kebudayaan, Mamiq Agus juga menulis puisi, melukis, dan menekuni naskah kuno berbahasa kawi. Dia pun aktif di Majelis Adat Sasak dan terlibat dalam upaya pelestarian serta revitalisasi adat dan tradisi di daerah Lingkar Rinjani.

Kehidupan adat dan tradisi menjadi aspek penting yang diperhatikan Mamiq Agus sejak lama. Sebab, menurutnya, ada banyak pelajaran dan pengetahuan yang dapat digali dari adat dan tradisi. Dan semua itu masih relevan dengan kehidupan masa kini.

“Tradisi itu, dengan simbol-simbolnya, bagi saya merupakan bagian dari upaya untuk menembus semesta, berdialog dengan semesta,” ucapnya.

Dengan demikian, tradisi membuat manusia memiliki kepekaan yang tinggi dalam membaca perubahan dan tanda-tanda alam. Dalam bahasa keilmuan, hal ini bersinggungan dengan aspek kosmologi dan juga epistemologi.

Maka, Mamiq Agus memilih terus berkhidmat di jalan tradisi. Dia berharap dapat menjembatani pengetahuan masa silam dengan kehidupan masa kini, sehingga tercipta kesepahaman. Tidak saling meninggalkan satu sama lain.

Dan di usia yang tak lagi muda, bahkan ketika dia punya pilihan untuk santai menikmati masa pensiun, Mamiq Agus tak kenal lelah menggali dan menyebarluaskan nilai-nilai tradisi masyarakat Sasak. Dia mengajar, mengisi seminar, menghadiri pertemuan masyarakat, dan terbaru, dia menerjemahkan dan mengolah naskah lontar kuno berjudul Jatiswara—yang sejak lama menjadi panduan hidup masyarakat Sasak.

Melalui langkah-langkah ini, dia berharap pengetahuan dan kearifan tradisi masyarakat Sasak secara khusus dan masyarakat Nusantara secara umum dapat dikembangkan dan dipahami dengan lebih baik dalam hidup hari ini. []

Redaksi
Author: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *