Pernahkah Anda merasakan sensasi yang amat kuat, yang membuat seluruh pikiran dan perasaan seolah diseret untuk fokus memperhatikan seseorang—terutama terkait caranya yang sungguh Anda suka?

Sebagaimana rasa kagum bisa mempengaruhi pikiran seseorang untuk menjadi seperti sosok yang dikagumi, atau sekurangnya mengikuti apa yang dilakukannya meski hanya pada tahap meniru, hal itulah yang sedang saya rasakan. Jujur, ini yang ingin saya tulis.

Kesibukan pekerjaan dan rutinitas sehari-hari membuat diri saya sudah merasa nyaman (comfortable). Ditambah lagi dengan anggapan bahwa tak ada yang harus disebut masalah karena segalanya memang tampak berjalan lancar. Sampai suatu ketika “sensasi” itu muncul dan mengobrak-abrik pertahanan kemapanan diri selama ini.

Seseorang yang baru saja tiba di lingkungan kerja kami dengan cepat membawa pengaruh yang sungguh terasa. Umumnya, orang baru dikenal karena keterampilannya berbicara hingga membuat pendengar terpukau. Tapi kawan yang satu ini justru datang dengan ketidaklaziman. Ia datang dengan keterampilan dalam merangkai kata untuk menjadi tulisan, yang saya harus akui sungguh bermakna.

Saya menyebutnya bermakna karena lingkungan kerja kami memang berkutat di dua hal: mengajar dan menulis (meskipun untuk urusan menulis hanya kami lakukan pada momen tertentu, terutama saat harus mengurus kredit poin sebagai widyaiswara).

Hari demi hari, sensasi yang tak beda dengan “rasa cemburu” itu semakin memuncak—bahkan sampai pada tahap iri hati. Saya selalu terpikir akan kemampuannya yang mampu membawa perubahan positif untuk banyak teman. Sampai kemudian muncul pertanyaan besar untuk diri sendiri: Mengapa dia bisa, sedangkan saya tidak?

quotefancy.com

Saya kemudian membuka kembali hadis yang pernah diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud ra. Dalam hadis itu dikatakan, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “Tidak boleh ada rasa iri dengki kecuali kepada dua orang, yakni orang yang diberikan Allah harta, lalu ia membelanjakannya dalam kebenaran; dan orang yang diberikan Allah suatu hikmah (ilmu), lalu ia menerapkan dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)

Alhamdulillah, setidaknya hadis tersebut sedikit memberi pencerahan untuk tetap menggunakan cara yang benar dalam memahami makna iri di sini. Ya, saya iri pada orang yang diberikan ilmu oleh Allah SWT, lalu ia mampu mengamalkan serta mengajarkannya kepada orang lain.

Ilmunya tidak disimpan sendiri tanpa mau dibagi. Dan, ia pun senantiasa menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, ilmunya sangat bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Oleh sebab itu, kita juga diperbolehkan iri kepada orang yang memiliki sifat demikian.

Berlama-lama di zona nyaman ternyata dapat membuat diri kita terlatih untuk kehilangan kepekaan terhadap perubahan, walaupun kita tahu perubahan akan membawa kesuksesan. Ibarat kata, jalan menuju puncak itu sama sekali tidak nyaman karena harus berlelah-lelah untuk bisa tiba di sana. Maka, tidak heran bila hanya sedikit orang yang sanggup untuk melakukannya.

Begitu pula bila kita ingin melakukan perubahan di lingkungan sekitar, hambatan yang akan dihadapi adalah tumbuhnya prasangka atau salah sangka atas kandungan maksud sesungguhnya. Sesuatu yang baru, atau katakanlah munculnya ide baru, tidak akan bisa dengan mudah diterima karena masih terasa asing—dan malah mungkin disebut aneh. Boro-boro menikmati, pada tahap menjalani saja terasa terpaksa.

Tapi ajaibnya justru di situ. Kata “terpaksa” ternyata bisa menjadi kunci perubahan. Ya, perubahan itu ternyata memang harus dipaksakan. Itulah yang sedang saya alami.

Setelah berdoa memohon diberikan ilmu oleh Sang Maha Pencipta, “kemudahan” itu seolah terjadi. Setelah melakukan evaluasi diri, saya seperti bangkit untuk segera merancang perbaikan langkah, kemudian menantang diri untuk membuat perubahan yang nyata.

Terima kasih sudah menjelaskan panjang-lebar tentang bagimana nikmatnya menulis, Sahabat. Bukan hanya menjelaskan teori dan urusan teknisnya, tapi juga mencontohkan bagaimana menulis sesuatu dengan begitu mudahnya.

Terima kasih telah membuat saya cemburu untuk bisa menulis seperti yang engkau lakukan. []

Tuti Aprianti
Author: Tuti Aprianti

Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi NTB.

By Tuti Aprianti

Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi NTB.

2 thoughts on “Membangun Kecemburuan yang Produktif”
  1. Masya Allah mbak yanti, terimakasih mau berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *