Jika kita mengibaratkan integritas sebagai tanaman, maka yang utama adalah kualitas bibit itu sendiri. Baru kemudian proses tumbuh kembangnya. Ketika tanaman tumbuh dari bibit yang berkualitas, disirami setiap hari, dan tetap diberi pupuk, pada akhirnya pasti menghasilkan apa yang diharapkan, yaitu buah atau bunga. Namun jika kemudian terserang hama dan tidak mampu bertahan hidup, berarti tanaman tersebut gagal dalam pertumbuhannya.

Sama halnya dengan membangun integritas. Mustahil kita melakukan itu dengan cara instan, melainkan harus melalui proses yang cukup panjang, konsisten, dan didukung semua elemen masyarakat. Dan, ketika terserang penyakit hati seperti hilangnya harga diri, kita sangat berpotensi untuk bertindak dan bersikap tanpa integritas.

Maraknya kasus korupsi di Indonesia terjadi akibat banyak orang yang gagal dalam berkomitmen. Kegagalan dalam komitmen memperlihatkan lemahnya integritas diri. Ada beberapa faktor pemicu lemahnya integritas, mulai dari keyakinan yang goyah, gaya hidup yang tidak benar, pengaruh lingkungan, hingga ketidakmampuan mengatasi berbagai persoalan kehidupan. Paul J. Meyer menyatakan, “Integritas itu nyata dan terjangkau, serta mencakup sifat seperti: bertanggung jawab, jujur, menepati kata-kata, dan setia.”

Adapun untuk seorang aparatur sipil negara (ASN), integritas dapat dilihat dari seberapa besar kemampuannya untuk melaksanakan tugas dan mengemban tanggung jawab. Dalam konteks Nusa Tenggara Barat (NTB), ASN yang berintegritas sudah selayaknya merespons positif dan mewujudkan visi kepemimpinan gubernur, yaitu mewujudkan NTB yang gemilang.

Untuk mewujudkan visi tersebut, dibutuhkan sinergitas dari seluruh perangkat pemerintah dalam menjalankan misi pembangunan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah sebagai suatu organisasi. Dan, upaya membangun budaya integritas merupakan jawaban dari tantangan tersebut. Sebab, langkah membangun bangsa yang berintegritas harus dimulai dari membangun integritas individu.

Kompetensi integritas merupakan kompetensi umum yang harus dimiliki seluruh jajaran pemangku jabatan. Lebih lanjut, seorang ASN dituntut untuk mampu mengaktualisasikan integritas tersebut dalam tugas dan fungsi masing-masing. Pembentukan karakter seorang ASN dimulai sejak mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil. Pendidikan ini bertujuan membentuk nilai-nilai dasar profesi ASN, di mana pembelajarannya mencakup mata diklat ANEKA: Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti-Korupsi.

Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam membentuk karakter ASN yang kuat, yaitu ASN yang mampu bersikap dan bertindak profesional dalam melayani masyarakat serta berdaya saing. Instansi pemerintah wajib memberikan pendidikan dan pelatihan terintegrasi bagi calon pegawai negeri selama satu tahun masa percobaan. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Tujuannya, untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggung jawab, serta memperkuat profesionalisme dan kompetensi bidang.

Lebih lanjut, setiap peserta diklat dituntut untuk mampu mengaplikasikan nilai-nilai dasar ASN dalam pelaksanaan tugas dan jabatan. Harapannya, selepas mengikuti diklat, seorang ASN dapat membiasakan diri untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dasar dan memiliki karakter yang berintegritas.

Hal ini penting bagi perjalanan karier seorang ASN. Sebab, seiring waktu dan bertambahnya masa pengabdian, ASN tersebut akan menjadi pemimpin. Nah, jati diri seorang ASN sangat terlihat jelas ketika menjadi pemimpin. Dan pemimpin yang berintegritas biasanya akan menunjukan empat sifat untuk meraih kesempurnaan:

Pertama, tulus bersikap (jujur). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ketulusan adalah kesungguhan dan kebersihan (hati). Ketulusan adalah perilaku tanpa kepura-puraan ataupun kesan yang palsu. Tulus bersikap sama dengan jujur. Sikap jujur akan terlihat ketika ada kesesuaian antara tingkah laku dan perkataan, serta perkataan dan kenyataan. Dengan demikian, pemimpin yang memiliki sikap ini akan dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya; konsisten menerapkan norma-norma yang ada dalam setiap situasi; bertindak sesuai etika dalam pekerjaan dan hubungan dengan orang lain; bertindak sesuai kode etik dan prinsip moral yang tinggi, serta berani menanggung konsekuensinya; dan berani melakukan koreksi atau mengambil tindakan atas penyimpangan kode etik.

Kedua, syukur, Dengan pandai bersyukur sudah tentu seorang pemimpin akan menikmati apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Dia paham bahwa tugas dan tanggung jawab yang diembannya adalah amanah. Dia bersyukur ketika amanah itu diberikan kepadanya, sehingga akan banyak target amal yang dapat dilakukan untuk melayani masyarakat, dan inilah yang disebut dengan gaya hidup yang benar.

Ketiga, malu. Seorang pemimpin, jika ingin berhasil dalam mengurus organisasi, harus mempunyai rasa malu, termasuk malu pada diri sendiri ketika ada perbuatan menyimpang yang dapat mencoreng integritasnya. Saat sumpah dan janji jabatan telah diucapkan, maka saat itulah integritas harus diterapkan seumur hidup. Sebab, janji itu didengar oleh Tuhan dan manusia.

Keempat, ahlak yang baik. Ini merupakan karakteristik pemimpin yang berintegritas. Keteguhan hati seorang pemimpin yang memiliki integritas tinggi akan diuji pada masa-masa sulit, di mana dia harus setia terhadap pekerjaannya dan bertahan sampai akhir. Pemimpin yang punya integritas lemah tidak akan mampu membangun organisasi ataupun bertahan dalam situasi yang penuh tantangan.

Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan, tentu ASN wajib mengaktualisasikan nilai-nilai integritas dalam pengelolaan kegiatan organisasi. Dengan nilai-nilai ini, diharapkan ASN (khususnya di NTB) mampu menakar serta memenuhi tanggung jawabnya dalam menjalankan tugas dan kepemimpinan untuk mewujudkan pembangunan masyarakat yang gemilang. []

Tuti Aprianti
Author: Tuti Aprianti

Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi NTB.

By Tuti Aprianti

Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi NTB.

9 thoughts on “Menakar Integritas ASN”
  1. Mantap setuju dengan 4 sifat Untuk meraih kesempurnaan
    1.tulus /jujur/ikhlas
    2.bersyukur
    3.malu
    4.berahlak baik

  2. Kereen bu WI sangat menginspirasi.. Meskipun sy lebih senang menempatkan akhlak yg baik di point pertama.. Karena pemimpin adalah role model bagi orang2 yang dipimpin. Urutan bukan masalah, yang penting aktualisasi..semangat menginspirasi bu

  3. ASN yang berintegritas harus dimulai dari dirinya sendiri, dengan menanamkan prinsip-prinsip: ikhlas, memiliki keberanian untuk selalu mempertahankan kebenaran, tidak keluar dari norma-norma agama, masyarakat, dan pemerintah, dan berpandangan realistis.
    Apabila prinsip-prinsip ini bisa diterapkan, maka ASN dapat menyalankan tugas-tugas pengabdiannya dengan baik.
    Namun nyatanya masih banyak ASN yang baru mau aktif bekerja jika ada uangnya. Masih banyak ASN yang tidak mau pintar, karena kalau pintar pasti disuruh -suruh mengerjakan tugas yang lain. Banyak ASN yang berhutang karena membeli sesuai keinginan, padahal harusnya membeli yang dibutuhkan sehingga tidak perlu berhutang. Masih banyak ASN yang kurang perduli dengan rekan sekerjanya untuk bersama-sama menuntaskan pekerjaan apalagi tidak ada uangnya, padahal ASN sudah dibayar 10 % untuk komponen kerjasama dari TKD.
    Untuk itu, menurut saya, ASN harus bekerja SUNGGUH-SUNGGUH, IKHLAS, DAN BERSAMA-SAMA.

  4. Sepakat pak Haji Syamsul Buhari, terimakasih atas kunjungan dan tanggapannya, semoga ASN jaman now bisa bekerja sama secara sungguh-sungguh dan iklas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *