Awal Mei saat itu adalah musim semi yang muda. Setelah langit kelabu musim dingin, hujan mulai muncul. Jadi, masih ada gumpalan awan melayang menguasai langit lapang, dan pesawat laksana kapsul kecil menuju angkasa, menembus awan tebal seperti memasuki lorong waktu.

Saya mengambil majalah yang terselip di laci kursi. Saya membuka dan membaca, mencoba serius membaca agar tak merasakan guncangan yang cukup sering terjadi. Saya ingin fokus ke bacaan dan tenggelam di dalam artikelnya. Saya menemukan bahwa perusahaan pesawat ini telah sering mengirimkan bantuan makanan ke Somalia, untuk membantu mengatasi masalah kelaparan akibat kekeringan maupun masalah pengungsi akibat perang tak berkesudahan.

Hamburg Rathaus atau Balai Kota Hamburg. [Dok: Annisa Hidayat]

Ada juga artikel tentang komunitas pemuda muslim Somalia yang sering menjajakan makanan ta‘jilan untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan, memberikannya gratis kepada orang-orang yang hidup tanpa rumah ataupun mungkin tanpa kampung halaman. Saya melirik Maulida, tapi tidak mengatakan apa pun. Saya membayangkan dia pasti akan ada dalam barisan komunitas pemuda tersebut.

Tiga jam kami di atas pesawat yang terombang-ambing oleh badai kecil. Saya mengatakan badai kecil karena Maulida mengatakan ini cuaca yang cukup bagus. Akhirnya kami sampai juga di Bandara International Hamburg. Awan menebal, langit kelabu, musim semi yang muda baru saja tiba dari perjalanan jauh melewati hari-hari musim dingin yang gelap dan panjang.

Kami turun dari pesawat dan berjalan bersama, mengantre di bagian imigrasi. Dia berdiri di depan saya untuk menyerahkan paspor dan visanya. Saya menunggu giliran di belakangnya. Dia berdiri cukup lama sampai saya khawatir ada masalah dengan dokumennnya. Sepertinya memang ada masalah. Dia diminta masuk ke ruang yang berbeda, sementara orang-orang lain menuju lorong keluar.

Giliran saya tiba untuk menyerahkan paspor dan visa. Hanya beberapa menit, lalu seorang wanita petugas imigrasi tersenyum manis dan mengatakan selamat datang di Jerman. Saya memegang visa mahasiswa internasional, jadi saya yakin prosesnya akan lancar.

Baca Juga: Inspirasi di Jayapura

Saya melewati lorong keluar, lorong yang berbeda dengan Maulida. Ada masalah apa dengan Maulida? Saya sangat khawatir. Saya membaca di media bahwa cukup banyak demonstrasi telah terjadi di beberapa kota di Jerman, termasuk Hambug. Kelompok sayap kanan masih anti-imigran dan anti-muslim, kriminalitas oleh pendatang dikatakan meningkat, dan protes para imigran sering kali diberitakan membuat rusuh.

[Baca halaman selanjutnya]

Annisa Hidayat
Author: Annisa Hidayat

Baru menyelesaikan studi di Asia Afrika Institute, University of Hamburg.

By Annisa Hidayat

Baru menyelesaikan studi di Asia Afrika Institute, University of Hamburg.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *