Mendengar kata lurik, apa yang terbayangkan di kepala kita? Sepertinya akan terbayang garis-garis halus yang berjajar simetris. Kain lurik berasal dari kata  “lorek” atau “rik” dalam bahasa Jawa, yang berarti garis-garis atau pagar pelindung, sebagai kain tradisional Jawa dengan motif garis-garis kecil.

Kain lurik termasuk wastra, yang dalam bahasa Sanskerta berarti selembar kain. Proses pembuatan kain lurik dengan cara ditenun, berbeda dengan batik yang dilukis. Lurik termasuk kain tradisional Indonesia yang bermakna dan memiliki simbol tersendiri. Umumnya dipakai untuk pakaian sehari-hari oleh pria di pedesaan yang dikenal dengan sebutan surjan, sedangkan wanita menggunakannya untuk kebaya, kemben atau bahan selendang untuk menggendong tenggok.

Tidak semua pakaian atau kain dengan motif garis disebut lurik, karena lurik melewati proses tertentu, mulai dari pewarnaan, pencelupan, pemaletan, peghanian, pencucukan, penyetelan, sampai pada penenunan, hingga menjadi selembar kain yang siap dipakai. Kain lurik umumnya berbahan benang katun kasar, berharga murah dan terjangkau untuk masyarakat  miskin. Lurik selain sebagai pelindung, menjadi ciri khas status sosial dan fungsi ritual keagamaan. Kain lurik yang digunakan dalam keseharian berbeda dengan kain yang digunakan untuk para bangsawan di lingkungan keraton. Kain tenun lurik berserat memiliki makna filosofi dan tak bisa dilepaskan dari kepercayaan seperti dalam upacara berkaitan dengan kepercayaan misalnya labuhan, mitoni (acara nujuh bulanan kehamilan), dan selalu mengiringi berbagai upacara adat.

Sejarah Lurik

Lurik ternyata memiliki nilai sejarah yang panjang. Menurut perjalanan sejarah, ditemukan cap tenunan, alat pemintal, dan bahan-bahan pembuat kain tenun di situs Gilimanuk, Melolo, Sumba Timur, Gunung Wingko, Yogyakarta, yang diperkirakan sudah ada sejak 3.000 tahun lalu. Di abad 15 Masehi, masyarakat Terakota, Triwulan, Jawa Timur, pun menemukan jejak sejarah kain lurik yang menyebar ke Yogyakarta, Solo, dan Tuban. Prasasti Hindu Buddha menunjukkan pertama kali keberadaan kain lurik di Pakkan, Malang. Berdasarkan perjalanan sejarah ini, ternyata kain lurik memiliki usia yang sangat tua sehingga sayang sekali kalau kita tidak ikut melestarikannya kan?

Motif Lurik

Awalnya motif lurik masih sangat sederhana dengan warna hanya hitam dan putih atau kombinasi kedua warna tersebut. Motif kain lurik ternyata tidak hanya berupa garis-garis membujur, tetapi dalam perkembangannya terdapat motif kotak-kotak sebagai hasil kombinasi antara garis melintang dengan garis membujur yang dapat dikategorikan sebagai lurik.

Ada juga corak yang dianggap sangat sakral dan menjadi sumber nasihat, petunjuk, dan harapan. Contohnya saja lurik “gedog madu”, yang biasanya digunakan dalam upacara adat mitoni ataupun siraman. Ada juga corak motif “lasem”, yang biasanya digunakan untuk pakaian perlengkapan pengantin pada zaman dahulu. Pada dasarnya lurik memiliki tiga motif utama, yaitu:

  1. Lajuran dengan corak garis-garis panjang searah sehelai kain.
  2. Pakan malang, yang memiliki garis-garis searah lebar kain.
  3. Cacahan adalah lurik dengan corak kecil-kecil.
Contoh produk lurik Diwasasri.
Untuk pemesanan dan katalog produk lainnya, klik: bit.ly/DiwasasriLurik

Sedangkan untuk motif kombinasi, di antaranya :

  • Motif Telupat

Motif “telupat” diambil dari bahasa Jawa telu dan papat, yang berupa kelompok tiga garis dan empat baris berjumlah tujuh garis. Menurut sejarahnya, motif garis ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan berdasarkan pertimbangan estetika dan filosofi raja atau penguasa yang harus dekat dengan rakyatnya sebagai pengayom, pemberi kemakmuran dan kesejahteraan.

  • Motif U dan Liris

Motif ini dsebut rintik atau hujan gerimis yang membawa kesuburan,  umumnya dipakai penguasa dengan harapan membawa kesejahteraan bagi pengikutnya.

  • Motif Sapit Urang

Motif yang mengungkapkan siasat perang, menggambarkan musuh yang dikelilingi atau dikepung dari samping dengan komando penyerang di tengah.

Motif-motif seperti itu mungkin banyak yang tidak mengetahui secara detail perbedaannya tetapi secara visual kita akan melihat perbedaan dari garis yang halus, tebal, rapat, jarang, bahkan rintik-rintik seperti air hujan. Kain lurik khas Jogja memang umumnya hanya garis-garis, berbeda dengan lurik Pedan di Klaten yang memiliki kombinasi dengan warna polos. [Bersambung: Siapa Melirik Lurik? (2)]

D. Mentari A.
Author: D. Mentari A.

D. Mentari A. Penyuka dunia pangan yang kini menjadi bagian dari Penggerak Swadaya Masyarakat. Memasuki 10 tahun di kegiatan pemberdayaan masyarakat membuatnya belajar mencintai pertanian, kehidupan masyarakat desa, hingga melirik lurik dengan segala keunikannya.

By D. Mentari A.

D. Mentari A. Penyuka dunia pangan yang kini menjadi bagian dari Penggerak Swadaya Masyarakat. Memasuki 10 tahun di kegiatan pemberdayaan masyarakat membuatnya belajar mencintai pertanian, kehidupan masyarakat desa, hingga melirik lurik dengan segala keunikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *